Manusia Kelas “Ketiga”

Setelah saya tekun berkarya berbasis pada passion, saya lambat laun dipertemukan oleh Tuhan dengan orang-orang yang berlari di track yang sama dengan saya. Sebut saja pertemuan-pertemuan ini adalah buah kebersenyawaan energi yang kami miliki, dan serangkaian kejadian kemudian mendekatkan kami satu sama lain. Setelah bertemu dengan mereka, orang-orang yang berkarya pada passionnya, saya selalu bertambah semangat dalam berkarya. Banyak cerita dan kisah hidup yang saya dengar dan kemudian menginspirasi saya. Orang-orang ini banyak yang menyatukan pekerjaan dan hobi-nya menjadi satu. Sebagian yang lain tetap menjalankan pekerjaan umumnya sambil terus menerus mengkaryakan passionnya. Bagi saya, keduanya sama-sama keren.

Sebuah obrolan dengan salah seorang sahabat mengantarkan topik pengulasan masalah kami pada sebuah kalimat tanya: “Bagaimana bisa?”

Bagaimana bisa orang-orang ini bertahan mengejar passionnya?
Bagaimana bisa mereka mengerjakan begitu banyak hal tanpa merasa sedikitpun terbebani?
Bagaimana bisa mereka me-manage jadwal hidup mereka yang padat tanpa kehilangan ‘family time’ mereka?

Ketika terlahir ke dunia, manusia datang tanpa membawa bekal apapun. Tapi, semua manusia diberikan modal yang sama. Modal itu adalah WAKTU. Seberuntung-beruntung manusia adalah mereka yang bisa memanfaatkan waktunya untuk berbuat kebaikan. Secelaka-celakanya manusia adalah mereka yang menyia-nyiakan waktunya untuk berbuat keburukan. Saya bukan theologis yang religius, bukan juga makhluk yang beriman dengan baik, tapi saya percaya bahwa semua agama mengajarkan hal yang sama: Berlomba dalam kebaikan.

Ada apa dengan “waktu”?

Bill Gates, Barrack Obama, Cak Gito Tukang Soto, dan Inul Daratista sama-sama mempunyai waktu 24 jam dalam 1 hari. Dan kuantitas di dalam waktu ini tidak bisa ditawar dan tidak bisa dilebihkan. Coba saja kita jualan jam tangan yang waktunya 28 jam, selama jualannya masih di planet Bumi, pasti jam itu tidak akan laku. Orang-orang yang saya sebutkan di atas mempunyai porsi waktu yang sama di dalam hidupnya, tapi mengapa nasib mereka berbeda-beda? Ada yang sukses sebagai enterpreneur, ada yang suksesnya jadi presiden, ada yang jadi tukang soto, dan satunya lagi jadi penyanyi dangdut merangkap wirausahawati. Mereka semua sukses. Lantas bagaimana dengan nasib para pengangguran dan pengemis gemuk yang suka bawa anak kecil pinjaman di pinggir jalan? Apakah waktu di dalam hidup mereka berbeda? SAMA! Pengemis dan pengangguran juga hidup 24 jam sehari. Tapi mengapa nasib mereka begitu berbeda. Back to the original statement: Seberuntung-beruntung manusia adalah mereka yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik untuk berbuat kebaikan.

Setidaknya, jika ditinjau dari kualitas hidup seseorang dalam memanfaatkan waktu, ada 4 kelas manusia:

#01 Manusia Kelas Pertama
Mereka adalah orang-orang yang membasiskan pemanfaatan waktu pada konsep “other-centered”. Golongan ini diisi oleh para pengkarya di dalam hidup yang memanfaatkan waktunya untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dan menciptakan karya sebanyak-banyaknya kemudian setelah itu mereka mencoba MEN-DISTRIBUSI-KAN hasilnya kepada sesama. Segala bentuk pencapaian yang ia terima tidak berhenti pada satu titik pusat ke-aku-an, melainkan berlanjut pada fase “kontribusi” untuk sesamanya. Bahkan untuk seluruh alam semesta. Alam semesta? YA!
Saya berkenalan dengan seorang berkebangsaan British-American bernama Bjorn Vaugn. Mas Bjorn ini mengejar passionnya sebagai fotografer alam. Ia berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mengkaryakan passionnya. Sampai pada suatu ketika, karena kecintaannya terhadap alam, ia berhenti di sebuah pulau yang dikenal sebagai paru-paru dunia: Borneo. Ia kemudian mendirikan sebuah perusahaan dokumentasi film bersama para aktivis pecinta lingkungan yang lain dan berbasis di Kalimantan. Keputusannya mendirikan perusahaan itu setelah ia galau melihat begitu dahsyatnya pembalakan liar di pedalaman hutan Borneo oleh pihak-pihak yang rusak akhlaqnya. Kekhawatiran sesungguhnya adalah ketika ia menyaksikan nasib para orangutan yang semakin menipis populasinya karena dihancurkan oleh tangan-tangan villain. Dengan bekal ‘sesuatu’ yang ia bentuk bersama teman-temannya, ia bertekad menyelamatkan nasib orangutan dan ‘rumah tinggal’ mereka. Saya bilang itu kebetulan yang lucu. Bjorn were Born to save Borneo. Tidak hanya memberikan sumbangsih untuk dirinya saja, tapi ia memanfaatkan waktunya untuk menciptakan perubahan bagi sesama, bahkan bagi alam semesta. #IfYouKnowWhatiMean

Selain Bjorn, saya juga bertemu beberapa orang yang sibuk ‘mendistribusi’kan apa yang telah ia perjuangkan. Hartanya, ilmunya, pengalamannya, semuanya. Dan mereka melakukan ini semata-mata karena “suka”. Tidak ada suruhan orang, bukan paksaan, tidak juga untuk memperoleh tepukan. Mereka adalah golongan manusia Kelas Pertama yang cerdas mengkondisikan jadwal hidupnya untuk menambah value diri serta untuk berbagi. Faktanya: berbagi itu bukan perkara “Mampu” atau “Tidak Mampu”, tapi soal “Mau” atau”Tidak Mau”. Banyak orang yang berkelit tak memiliki apa-apa sehingga ia ‘malas’ berbagi. Akan tetapi mereka tidak punya usaha untuk mencari sesuatu yang bisa untuk dibagi. Berbeda dengan manusia Kelas Pertama ini yang bisa bersikap keras kepada dirinya sendiri untuk menjadi lebih ‘kaya’ sehingga ia bisa berkontribusi kepada sesama. Orang-orang ini sangat menginspirasi saya.
—————-

#02 Manusia Kelas Kedua
Pada kelas ini, orang-orang telah memanfaatkan waktunya dengan baik untuk berkarya pada track passionnya dengan bijaksana dan berbasis pada konsep “Me centered”. Achievement yang mereka bangun berbasis pada kepuasan dirinya sendiri saja, tapi belum sampai tahap kontribusi kepada sesama seperti yang dilakukan oleh manusia Kelas Pertama. Pada level ini, biasanya orang-orang akan menyanjung hasil kerja dan karyanya sebagai manifestasi pribadi akan kepuasan menciptakan dan kelayakan mendapatkan apresiasi dari lingkungan. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Akan tetapi, sebuah penilaian terlahir dari manfaat yang tercipta. Semakin besar manfaat yang diterima oleh sesama, semakin besar penilaian yang terlahir, tergantung kepada keikhlasan di fase pertama saat berkarya. Pada kelas ini, fokus utama pencapaian masih berbasis kepada ke-Aku-an. Kesuksesan pribadi. Jika bertahan dengan baik, segera sesudahnya mereka akan naik kelas ke level yang lebih unggul untuk berkontribusi, memanfaatkan waktunya tidak hanya untuk menciptakan karya guna memuaskan diri, tapi juga memuaskan sesama.
—————-

Saya tidak akan bicara panjang lebar soal #04 Manusia Kelas Keempat, karena pasti kita sudah sama-sama tahu bahwa level ini sudah pasti diisi oleh  kelompok orang yang mengisi waktunya untuk berbuat keburukan. Mabuk, judi, main cewek/cowok/bencong, dan lain-lain, silakan sebut sendiri perbuatan-perbuatan tercela seperti yang pernah kita database-kan kala pelajaran PPKn dan tata krama semasa SD dulu. Tapi, sejelek-jelek bentuk kegiatan tersebut, setidaknya mereka tetap berusaha memanfaatkannya. Hanya saja memanfaatkannya untuk kebrukan. Pada level ini, tentu saja kita akan sangat rugi.
—————-

#03  Manusia Kelas Ketiga
Jika Kelas Pertama berbasis pada konsep “Other-centered”, dan Kelas Kedua pada konsep “Me-Centered”, maka Kelas Ketiga ini berbasis pada “Nothing-centered”.
Kesia-siaan.
Dulu pernah muncul sebuah perdebatan panjang antara ada atau tidaknya “bakat” seseorang di dunia ini. Sebagian percaya bahwa bakat itu tidak ada, yang ada adalah usaha yang keras mencapai keberhasilan. Di sisi lain, seseorang yakin bahwa setiap manusia lahir dengan sebuah bakat sebagai bentuk anugerah ‘modal’ pemberian Tuhan. Perbedaan pendapat ini tidak terlalu penting, yang utama adalah hikmah di baliknya, mari kita hormati. Saya termasuk orang yang percaya bahwa bakat itu ada. Sebagai bentuk anugerah, setiap manusia dibekali bakat dan potensi yang berbeda-beda. Seburuk-buruk orang adalah yang menyia-nyiakan potensi di dalam dirinya karena ia tidak tekun mengasahnya dari waktu ke waktu.
Manusia Kelas Ketiga adalah makhluk yang malang. Ia di anugerahi dua hal: Bakat dan Waktu, tapi keduanya dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Jangankan mendatangkan manfaat untuk orang lain, untuk dirinya pun tidak.

Saya pernah diberi perumpamaan oleh seseorang yang sepuh dan bijaksana, seperti ini:
Sebutlah di suatu hari, muncullah seorang yang kaya raya memberikan modal kepada dua orang miskin dengan jumlah nominal uang dan peralatan yang sama. Usai memberikan modal itu, si kaya meninggalkan mereka untuk berkarya. Si miskin yang pertama langsung instan memakai uangnya untuk memenuhi kebutuhan lahiriyah dirinya dan nafsunya. Pada saat yang sama, si miskin kedua memanfaatkan sebagian nominal uangnya untuk investasi dan membeli modal usaha. Selang waktu berganti, si miskin pertama masih senantiasa menyianyiakan modal tersebut sementara si miskin kedua sudah meraih sedikit keuntungan dari modal awalnya. Pada akhir cerita, si kaya kembali datang menjenguk nasib dua orang yang pernah ia delegasikan kepercayaan dan finansialnya. Hati si kaya dibuat bangga melihat nasib si miskin kedua yang sudah sukses dan menceritakan perputaran keuntungannya serta kontribusinya kepada sesama berbekal pada modal awal yang pernah ia terima dahulu. Tapi kemudian hati si kaya ngenes kecewa melihat nasib si miskin pertama yang tidak berkembang, bahkan menjadi semakin miskin kehabisan modal awalnya. Ia telah menyia-nyiakannya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Singkat cerita, si miskin pertama ditinggalkan si kaya dengan bekas kekecewaan mendalam. Sementara itu, si miskin kedua terus menerus mendapatkan support dari si kaya secara berkesinambungan.

Cerita di atas merupakan sebuah analogi sederhana tentang dua orang yang diberikan modal yang sama dari Tuhan dan bagaimana cara memanfaatkannya. Modal utama kita adalah ‘waktu’. Modal kedua, yang saya imani selama ini adalah potensi atau bakat. Si miskin kedua adalah pengejawantahan kesuksesan seseorang yang berhasil memanfaatkan modalnya dengan baik sehingga bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan sesamanya. Tipe golongan ini tentunya membuat Sang Maha Pemberi Modal senang dan bangga. Manifestasi kesenangan-Nya diwujudkan kepada makhluk ciptaan-Nya ini dengan kehidupan yang bahagia dan dicintai sesama. Sementara itu, si miskin pertama adalah perwakilan dari nasib orang-orang yang menghambur-hamburkan waktunya untuk mengerjakan hal sia-sia. Kesia-siaan itu kemudian menumpas potensi dan bakatnya, sehingga dirinya hanya bisa terus-terusan bergantung pada uluran nasib orang lain. Saya beriman, Tuhan pasti tidak suka dengan orang-orang seperti ini. Dan saya juga beriman, bahwa orang-orang yang suka menyia-nyiakan waktunya ini tidak akan “diurus” lagi karena sudah membuat Dia kecewa karena tindakannya itu. Buktinya, sudah terlalu banyak contoh di sekitar kita, orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya hidup dalam ‘kemelaratan’ dan ‘kesengsaraan’ batiniyah, bahkan lahiriyah. Karena kelakuan mereka yang menyia-nyiakan fase-fase hidup mereka sendiri itulah yang menjadikannya demikian.

Seorang bijak di dalam hidup memberi petuah sederhana: “Berkarya di masa muda, berjaya di hari tua”. Kalimat ini menjadi trigger bagi saya untuk terus memanfaatkan fase hidup yang sedang saya jalani supaya nanti tidak kehilangan kejayaan oleh penyesalan. Bagaimana mungkin kita mau menyia-nyiakan waktu untuk bermalas-malasan atau melakukan hal yang kurang bermanfaat sementara di sekeliling kita, teman-teman kita banting tulang menciptakan perubaan dengan pengembangan potensi masing-masing. Malu rasanya. Mereka, kaum muda yang kata bang haji Rhoma Irama sedang berapi-api berhasil menyulap energinya untuk memaksimalkan potensi dan waktu mereka pada track cantik yang sangat bermanfaat. Setiap fase di jalani oleh orang-orang Kelas Pertama ini dengan penuh manfaat, tidak ada yang ter-sia-sia-kan. Pada saat yang sama, orang-orang Kelas Ketiga terus-terusan bermalas-malasan mengeluhkan takdir Tuhan yang hanya menciptakan waktu 24 jam dalam sehari.
Mereka selalu beralasan “tak punya waktu” untuk berkarya.
Mereka selalu berkelit “tak ada waktu” untuk belajar.
Tapi pada saat yang sama mereka duduk berjam-jam bermain 9gag. Pada saat yang sama mereka melebihkan waktu berbaring di kasur untuk melamun sampai tak kenal waktu. Pada saat yang sama pula mereka asyik bergosip di jejarig sosial tanpa ada niat mengupgrade pengetahuan dan sumber inspirasi. Pada saat yang sama, mereka lebih banyak berbuat yang sia-sia daripada yang mendatangkan manfaat.
Ini adalah bentuk kemunafikan tingkat dasar, dan celakanya sebagian orang pada level ini menghalalkannya secara halus dalam bentuk “Alasan”.

 

Manusia Kelas Ketiga tentu belum akan mengerti nikmatnya berkarya. Mungkin boleh jadi mereka belum mengerti indahnya berkontribusi. Kejadian ini tentu mengisyaratkan satu hal tentang bagaimana kualitas mereka dalam memanfaatkan modal mereka, Waktu dan Potensi.
Lalu bagaimana untuk naik level dari kelas ‘absurd’ ini?

Pertama: Petakan dulu ‘masalah’ dan ‘potensi’nya.
Setiap kejadian sia-sia pastilah sebuah masalah. Cobalah untuk di manajemen dengan baik dengan mempartisi kegiatan berdasar manfaatnya bagi kita dan sesama. Setiap kegiatan yang berpotensi membawa manfaat segera kita prioritaskan untuk dikerjakan ‘lebih dulu’ dan ‘lebih sering’ ketimbang yang kurang bermanfaat. Kemudian, cobalah untuk mematuhi manajemen jadwal ini dengan baik selama 21 hari untuk membentuk sebuah kebiasaan. Selanjutnya, pecahkan rekor kepatuhan ini hingga 40 hari tanpa putus untuk membentuk sebuah kebutuhan. Jika kita konsisten, kita bisa naik level menuju kelas yang lebih baik.

Kedua: Berusahalah untuk ‘senang’ melihat kesuksesan seseorang.
Ada golongan orang yang kebiasaan di hatinya selalu “panik melihat kesuksesan orang”. Mode defensif ini kemudian melahirkan digma di otaknya untuk melihat seseorang yang sukses sebagai saingan. Ujung-ujungnya, jika track mereka keliru, akan berujung pada kasus iri dan dengki, dan siasat kudeta licik untuk menjatuhkan kesuksesan itu. Sebuah klise penyakit hati bagi kaum rendahan. Lalu bagaimana cara membersihkan penyakit ini? Sederhana. Berusahalah untuk melihat ‘saingan/orang yang sukses’ ini sebagai anugerah agar kita semakin terpacu untuk berkarya dan memanfaatkan waktu kita lebih mantap lagi. Lihatlah orang-orang sukses ini sebagai sahabat seperjuangan kita. Belajarlah banyak hal dari mereka. Berbagilah passion bersama mereka, dengarkan pengalaman hidupnya, ambil hikmahnya, dan sebagainya. Dengan kita berusaha untuk senang melihat kesuksesan orang, kita akan “malu” menjadi orang yang tidak bermanfaat.

Ketiga: Konsisten dan jangan mudah ‘berpuas diri’.
Di atas langit masih ada langit. Lihatlah ke atas agar kita terpacu terbang lebih tinggi. Jangan sampai kita melihat ke bawah untuk menciptakan alasan dan pembenaran-pembenaran konyol. Sangat picik rasanya jika kita menjadikan kegagalan dan ‘kejatuhan’ nasib seseorang sebagai alasan kita untuk berpuas diri. Jika kita begitu, maka pada saat yang sama kita sedang menciptakan benteng agar kita tak bisa berkembang. Tidak ada hasil memuaskan dari usaha yang instan. Kalaupun ada, pasti umurnya hanya sesaat. Karena itu, tanamkan niat untuk mengubah ‘level’ diri kita dari keisa-siaan menuju kebermanfaatan dengan memupuknya terus-menerus dengan usaha yang konsisten. Jika kita sudah mendapatkan hasil, segera distribusikan. Jangan sampai kita senyam-senyum dengan hasil sendiri lalu berpuas diri menikmati kenangan indah atas cobaan berat yang sudah kita lalui. Forget it. Lanjut ke level berikutnya, lalu tantang diri lebih kuat lagi. Pertahankan semangat ini secara terus menerus. Konsisten.

—–
Make sure No Time Wasted.
Derajat kemuliaan seseorang dapat dinilai dari seberapa besar kemanfaatan dirinya bagi semua.
Akselerasi. XGRA AXY!!

Advertisements
7 comments
  1. Olvyanda said:

    Ulasan yg sgt bgs dan bmanfaat mas Sweta..
    Dg menulis ini, anda telah mjadi seorg kelas pertama..

  2. khaeolus said:

    good writing.
    izin berbagai, ya. 🙂

  3. antondewantoro said:

    Sangat supper sekali, saya jadi merasa tersindir secara positif. Semoga bisa naik kelas dari manusia kelas 4 ke kelas 1 (eh itu naik apa turun ya?)

  4. hendra said:

    Sial, ini tamparan buat hidupku yg sekarang (manusia kelas ke tiga). Terimakasih sudah mengingatkan saya pada hasrat bekarya. Ayo bangkit lagi~ dan serius lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: