Kalau Monyet Jatuh Cinta

Katanya, Cinta itu nggak punya mata. Tapi kita harus punya mata…

Dengan beberapa alasan, seringkali seseorang yang sedang pacaran (atau apapun sinonim-nya) enggan mengakui kalau gaya yang mereka pakai sebenarnya tidak layak dengan usia mereka. Jika pernyataan ini disimbolkan dalam nasihat mungkin akan berbunyi: “just act your age”. Kebanyakan orang yang sebelumnya bersikap tenang dan dewasa, ketika berpacaran dengan seseorang, mulai keluar lagi sifat manja dan kekanak-kanakannya. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Jikalau mau jujur, ini hanyalah side-effect dari usaha menarik-perhatian-pasangan atau semacamnya, yang tidak diiringi dengan perhitungan logika. Di sisi lain, masih banyak juga yang berpacaran dengan gaya dewasa dengan konsep kemapanan yang tenang. Mengapa gaya pacaran seseorang bisa begitu rumit dan berbeda? Semoga anda menemukan jawabannya pada uraian di bawah ini…

Ketika menjalin cinta, seseorang (baik laki laki maupun perempuan) cenderung berubah secara sifat. Hal ini bisa terjadi berkebalikan. Misalnya, seseorang yang semula dewasa tatkala menjalin dengan seseorang yang manja, ia cenderung menjadi kekanak-kanakan. Ada juga yang sebelumnya kekanak-kanakan, justru menjadi mapan dan dewasa kala berpacaran. Gejala anomali ini sebenarnya hanyalah buah penyesuaian diri antara seseorang dengan pasangannya. Hanya masalahnya, siapa yang mau dimenangkan? Kedewasaan kita, atau sikap manja pacar kita.

Berangkat dari akar gaya berpacaran ini, setidak-tidaknya ada empat klasifikasi gaya pacaran atau saya coba kerangka-kan dalam modul Institusi Cinta. Uraian berikut ini saya ambil dari beberapa kasus yang dialami oleh rekan rekan disekitar saya. Dan tulisan ini murni dibuat secara objektif mengingat penulis juga belum pernah berpacaran (piss), sehingga tulisan ini dibuat secara logis dan sedikit mengandung unsur rasa. Institusi Cinta ini terbagi ke dalam empat tingkat, yaitu: Cinta SMP, Cinta SMA, Cinta Kuliahan, dan Cinta Dewasa. Ini tidak ada hubungannya samasekali dengan Institusi Pendidikan terkait. Yang dimaksud Cinta SMP bukan Cintanya anak-anak SMP. Ini hanyalah “kelakar” untuk memudahkan penjelasan tingkatan “mutu” pacaran seseorang. Apa itu Cinta SMP?

Cinta SMP bisa juga disebut cinta monyet. Kalau diibaratkan kebun bunga, maka Cinta SMP ini terlihat seumpama kebun bunga yang sangat indah. Harum semerbak. Sesekali nampak kelopak-kelopak bunga yang gugur terbang dibawa angin. Orang-orang yang berpacaran dengan gaya Cinta SMP hanya mau melihat indah-indahnya saja. Entah bagaimanapun caranya, pokoknya nggak boleh ada sisi kelam berpacaran, maunya yang indah indah. Aspek-aspek yang menyertai gaya ini antara lain:
1. Perhatian yang berlebihan; misalnya, setiap jam sekian, cowo harus ngSMS cewenya dg pertanyaan penuh perhatian “…Yang, dah makan belom? jangan telat makan ya, aku gamau kalo kmu smpai sakit”, dan jika dibuat dengan versi alay, setidaknya akan tertulis seperti ini “…aiank dah ma’em lomz?jgn tladh mqan iaw, aQQu gamau Qmu mpe atit…”
2. Panggilan “sayang” yang hanya diperuntukkan bagi mereka berdua. Diharamkan bagi orang lain yang memanggil salah satu dari mereka dengan panggilan sayang dari pacarnya. Konon, sekarang yang sedang populer-populernya adalah panggilan “pippi-mimmi” atau “mamah-papah”, bahkan dengan versi Jawa “Bojoku”. Panggilan ini sebenarnya cukup melampaui comfort zone secara berlebihan mengingat mereka masih tahap berpacaran.
3. Mengejar Nilai Maksimal dalam berpacaran. Apa itu nilai maksimal? Nilai maksimal dapat dijelaskan sebagai kegiatan-kegiatan romantis yang wajib dijalani oleh orang berpacaran, seperti: makan berdua di cafe, naik motor berdua ke laut, mojok di alun-alun, pake baju kembar, sepatu kembar, nonton bareng, dan kegiatan-kegiatan lain yang sekiranya romantis jika dikerjakan berdua (Tidak selamanya kegiatan di atas ini masuk sebagai ‘nilai maksimal’, tergantung konteksnya). Tatkala mengejar ‘Nilai Maksimal’ ini, baik cewe maupun cowo sangat mengesampingkan aspek kenyamanan. Dari beberapa kasus, banyak pasangan yang sebenarnya kurang merasa nyaman jika harus pergi berdua ke laut, tapi mereka nekat mengejawantahkannya dengan dalih “pacaran ya harus seperti ini”. Secara bodohnya, Cinta SMP ini lebih mementingkan ‘cara umum berpacaran’ daripada mengedepankan aspek ‘kenyamanan’ mereka berdua, atau salah satu dari mereka.
4. Cinta SMP terkadang tidak mau mengenal kondisi atau alasan apapun yang logis. Misal, seorang cowo yang sedang ngebut di atas motornya tiba-tiba mendapati SMS dari cewenya. Ibarat makan buah simalakama, cowo ini dihadapkan pada dua pilihan: pencet SMS sambil ngebut agar menunjukkan kesigapan pasangan dalam menerima SMS dari pacarnya, atau mengabaikannya sampai nanti ada saat tepat kala berhenti untuk membalas SMS itu dengan konsekuensi dimarahi cewenya karena nggak bisa balas SMS tepat waktu.
5. Tingkat kecurigaan maximum. Hal ini terjadi jika sang pacar lama tidak memberi kabar atau menanyakan kabarnya. Yang ada, dalam bahasa Islamnya adalah “su’udzon” alias prasangka buruk yang terkadang telah menjangkit hingga stadium 4 yang susah sembuhnya meskipun diobati dengan permintaan maaf bertubi-tubi dan kado istimewa sekalipun.

Cinta SMP tidak ada hubungannya dengan usia. Mau bocah, mau anak kuliah, mau yang sudah bekerja sekalipun, selama gaya berpacarannya seperti uraian diatas, maka pasangan ini layak dikategorikan ke dalam Cinta SMP. Bentuk2 perhatian cinta harus divisualkan atau di verbalkan, agar mempertajam kesan perhatian cowo kepada cewenya, atau sebaliknya. Akan tetapi, nilai yang akhirnya keluar berbanding terbalik justru ‘nilai pengertian’. Cewe/cowo pada Cinta SMP akan marah atau panik jika pesan singkatnya atau telponnya tak dijawab segera. Padahal, kemungkinan ada hal lain yang sangat logis yang sedang terjadi pada saat itu, sehingga tidak memungkinkan untuk membalsanya dengan segera. Tapi hal ini diabaikan. “Pokoknya harus dijawab sekarang atau aku marah”. Jikalau rambu-rambu ini sudah keluar, tinggal rasa panik yang menyerang. Cinta SMP mengagung-agungkan “kemanjaan”. Cowo yang sudah dewasa sekalipun, kalau sudah terjebak di kawah panas Cinta SMP ini, akan men-towndown kedewasaannya dan mengorbankannya demi cewenya yang manja dan kekanak-kanakan. Atau sebaliknya, cewe kepada cowo. Selanjutnya, jika kegiatan ini kian berlangsung, tinggal menunggu masa jenuh dari mereka berdua. Langkah selanjutnya, bisa jadi mereka putus, atau memperbaiki gaya itu jika mereka sadar kemudian.

Cinta SMA, setingkat lebih tinggi dari cinta SMP, adalah perumpamaan bagi gaya pacaran yang cukup dewasa. Pada Cinta SMA ini, biasanya sang pasangan akan meyadari “betapa tololnya cinta monyet itu. Disini, seorang pasangan biasanya lebih dewasa menyiasati kerinduan. Tidak perlu sering bertemu, asalkan mendengar kabar si dia baik-baik saja disana, itu sudah cukup. Jikalau diibaratkan kebun bunga mawar yang indah, yang terlihat bukan hanya mawarnya, tapi juga duri-durinya, pupuk komposnya, kumbang-kumbangnya. Artinya, dalam Cinta SMA ini, mereka telah saling memahami kekurangan masing-masing. Tingkat kecurigaan pun mulai pupus, tergantikan oleh pengertian hati ke hati. Ujungnya, hal ini akan menuai prasangka baik pada pasangan.

Cinta SMA biasanya sedikit mengabaikan ‘panggilan sayang’. Perhatian yang ditunjukkan pun tidak melulu dalam visual dan verbal, namun lebih kepada tindakan langsung kepada pasangannya. Jikalau Cinta SMP mengejar ‘nilai maksimal’, maka Cinta SMA akan mengejar ‘Nilai Optimal’. Nilai Optimal adalah titik yang paling nyaman yang dapat ditempuh oleh sepasang kekasih berdasarkan kondisi masing-masing. Tidak perlu harus ke bioskop untuk nonton bareng, atau boncengan berdua ke laut, atau candle~light berdua di cafe. Bagi pasangan Cinta SMA, jauh lebih penting duduk berdua di mana saja, lalu berbagi hati, ngobrol semalaman dengan romantis sekalipun lokasinya hanya di rumah sang cewe yang dibelakangnya diawasi oleh calon bapak mertua yang horror. Sekali lagi, ini tidak ada hubungannya dengan usia seorang pasangan. Jika pada kenyataannya ditemui pasangan anak SMP yang berpacaran dengan gaya Cinta SMA, berarti mereka sudah jauh lebih dewasa dan lebih baik daripada sepasang anak kuliah yang masih khusyuk dengan gaya Cinta SMP mereka.

Satu level di atasnya, Cinta Kuliahan adalah kasta yang lebih mahsyur. Berdasarkan tingkat kedewasaan, gaya Cinta Kuliahan sudah tidak perlu diperdebatkan. Bentuk perhatian yang ada pun tidak lagi harus sok-sok romatis seperti pada Cinta SMA, apalagi pada Cinta SMP. Yang paling utama dari pasangan Cinta Kuliahan adalah “nilai pengertian, perhatian, dan kepercayaan”. Pada fase ini, seorang pasangan tidak akan digoyahkan oleh “ruang dan waktu”. Artinya, meskipun jauh (satu di Jakarta, pasangannya di London), hubungan mereka tetap stabil. Tanpa perlu saling bertemu, pasangan pada level ini tetap saja merasa dekat. bahkan semboyan mereka telah merapat kepada “Biarkanlah dirimu terus berada dalam kerinduan, supaya kamu makin cinta”. Nasihat-nasihat keduanya lebih kepada saling mengoreksi dan memperbaiki diri. Yang menjadi ciri utama pasangan Cinta Kuliahan ini adalah “visi” pada keduanya. Mereka telah memikirkan masa depan lebih lanjut, bukan semata planning jangka pendek yang berhenti pada proses “pernikahan”.

Ketika kita membicarakan level terakhir, yaitu Cinta Dewasa, pemikiran kita sebaiknya diarahkan ke cinta sepasang suami istri yang mapan. Mereka cenderung pemaaf, pemaklum, dan hal yang paling malas mereka lakukan adalah mengungkit-ungkit kesalahan orang atau mengungkit-ungkit jasa pribadi. Apa yang mereka berdua lakukan hanyalah kinerja satu tim demi kebaikan berdua. Cinta mereka berdua sudah tulus sebenar-benarnya. Hal apapun dibicarakan bersama, seakan akan tidak ada lagi rahasia diantara keduanya.

Tulisan ini semata-mata hanya dibuat sebagai pengetahuan saja, tidak ada niat menguliahi, apalagi menghakimi. Secara analitik, telah diungkapkan dengan jelas perbedaan kelas dalam Institusi Cinta ini. Pada kenyataannya, hal ini sering dijumpai di sekitar kita, atau bahkan dialami oleh kita sendiri. Pertanyaannya, kita masuk kelas yang mana?

 
Saat kita jatuh cinta, ada dua hal yang harus kita menangkan dengan seimbang. Dua hal itu adalah Rasa dan Logika. Karena Rasa itu Rapuh, sedangkan Logika itu Tangguh. Jangan hanya terbuai dalam rasa. Sekalinya kita jatuh, kita akan terpuruk…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: