Bapak saya, Sugeng Riyadi adalah seorang penggambar didikan alam. Bapak menguasai hampir semua bidang kesenian, baik dalam rupa, swara, maupun raga. Bapak bisa membuat komik, ilustrasi, dan mengukir wayang. Apa yang saya lakukan hari ini sebetulnya adalah kelanjutan prestasi Bapak dahulu, hanya saja saya melakukannya dengan cara yang lebih kekinian dan aplikatif. Benar, saya menjadi seperti sekarang karena gemblengan keras Bapak kepada saya (dan adik-adik saya) di masa kecil. Saya memang beruntung, lahir di keluarga yang mendukung penuh passion saya dalam bidang seni rupa. Itulah sebabnya di rumah saya sudah ada komik sejak saya SD. Saya mau bercerita sedikit tentang masa kecil saya, dan nantinya akan saya kerucutkan menuju kalimat judul artikel ini.
 
Saya sudah mengikuti lomba menggambar sejak umur 3 tahun. Waktu itu ada lomba menggambar di Alun-alun Kebumen yang dihadiri oleh Pak Raden dan Pak Tino Sidin. Dalam katogori anak, tak disangka sayalah yang jadi juaranya. Alasannya sederhana. Saya memenangkan lomba karena ketika peserta lain menggambar pemandangan standar, saya malah menggambar kura-kura ninja. Saya lupa siapa yang saya gambar, entah Donatello, Rafael, Leonardo, atau Michaelangelo. Yang jelas, karena kemenangan tersebut, saya jadi digendong oleh Pak Tino Sidin di atas panggung. Too bad kami yang orang tak mampu tidak bisa mengabadikan momen bersejarah tersebut lantaran tak punya tutstel. Sejak saat itu, lomba demi lomba, saya (dan adik-adik saya) ikuti. Bapak dan Ibu kami adalah garda kembar yang menjaga dan menggiring kami dari arena laga satu ke arena laga lain. Sepanjang masa kecil saya, hampir semua lomba menggambar saya ikuti. Baik itu yang diadakan resmi oleh pemerintah, seperti PORSENI dan Lomba Mata Pelajaran, atau lomba-lomba yang diadakan oleh swasta. Tidak jarang, saya dan adik-adik saya berboncengan motor beramai-ramai bareng Ibu dan Bapak menuju lokasi lomba. Tak jarang pula, Ibu saya, Lily Herliawati kelimpungan mengantar anak-anaknya ke lokasi lomba, menenteng meja gambar yang diikat dengan tali rafia. Tiap lomba, berbagai teknik dan alat gambar saya coba, dari crayon, cat air, spidol, tinta cina, mix media, sampai ke watercolour pencil. Tidak hanya seni rupa, saya dan adik-adik saya bergantian menjadi perwakilan lomba lain, seperti seni patung dan relief, bahkan sampai ke lomba menulis Kaligrafi dimana saya digembleng untuk menguasai basic line art menggunakan kuas. Semua itu kami lakukan sebelum masuk SMP, bahkan sebelum usia saya genap 11 tahun.
 
Tiap lomba yang saya ikuti, tidak jarang saya kalah. Saya tidak pernah iri melihat pemenang lomba menjujung tinggi pialanya saat sesi pemotretan, tapi saya kesal karena kadang gambar saya tidak sebagus gambar mereka. Dan di tiap lomba berikutnya, Bapak selalu mengujicobakan teknik menggambar baru kepada kami. Inilah nilai dari sebuah improvisasi. Kamu kalah pakai jurus ini, kamu jajal jurus lain di laga berikutnya. Itu inti pesannya. Pernah suatu ketika saya memenangkan satu lomba menggambar di Wonosobo. Waktu itu saya merasa gambar saya kurang maksimal, tapi entah kenapa saya menang dan membuat saya melaju ke Semarang. Saya berkata, “Heran, gambar saya nggak bagus-bagus amat, tapi kok saya menang ya, Pak?”. Bapak menjawab, “Jangan bangga dulu. Kamu menang hari ini bisa jadi karena anak yang paling pintar menggambar tidak ikut lomba ini.” Omongan Bapak terbukti. Di Semarang saya kalah telak. Juara harapan pun tidak.
 
Saya menceritakan tentang apa yang saya alami di saat turnamen. Bagaimana dengan situasi diluar turnamen? Inilah inti ceritanya.
 
Bapak saya adalah figur pendidik sangat keras. Buka keras main fisik, tapi dalam kedisiplinan. Kalau dari mata saya ketika masih anak-anak, mungkin bahkan sangat militan. Dalam menggembleng saya, Bapak sudah menjadwalkan khusus kapan saya harus latihan menggambar. Tiap lomba yang saya ikuti, saya dilatih untuk menguasai alat baru dengan teknik yang baru. Saya sudah menguasai teknik watercolour pencil di saat saya masih kelas 5 SD. Crayon, spidol, cat air, dan tinta cina sudah jauh saya pahami teknisnya sebelum itu. Mengapa bisa begitu? Karena bapak saya tidak memanjakan saya. Dalam hal apapun. Ketika crayon kami kurang, hanya ada 8 sampai 12 warna, Bapak justru menuntut kami menguasai pewarnaan dengan keterbatasan warna itu. Ketika spidol warna warni yang saya dambakan harganya selangit, Bapak bukan cari hutangan buat beli spidolnya, tapi justru melatih saya dengan watercolour pencil yang relatif lebih miring harganya.
 
Saya tidak pernah dimanjakan dengan fasilitas mewah karena ekonomi keluarga saya di masa saya kecil memang boleh dibilang tidak mampu. Bukan hal asing lagi kalau saya bercerita harus mandi di masjid bilamana ikut lomba di kota yang jauh dari Kebumen. Bapak juga tidak memanjakan saya dalam proses. Pernah suatu ketika di sebuah lomba di Petanahan, Kebumen, saya mengeluh kecapekan. Bapak cuma menjawab, “Bapak juga tahu kamu capek, tapi kamu harus bereskan gambarmu. Kasih tahu Bapak hal yang kamu belum ngerti. Kalau capek, Bapak juga tahu kamu capek. Tanya yang kamu belum ngerti saja”. Militan. Yes. Tapi kemanjaan itu memang harus dikerasi. Gambar di artikel ini adalah sebuah ilustrasi yang menceritakan ketika saya sedang asik-asinya main sepeda di luar, tiba-tiba Bapak menarik saya pulang untuk berlatih membuat relief untuk lomba mendatang. Kejadian ini saya alami ketika saya berusia 9 tahunan. Benar, saya berlatih sambil menangis karena keseruan saya bermain direnggut oleh jadwal latihan. Sementara itu, Bapak di belakang membimbing saya sambil merokok (sekarang sudah tobat merokoknya).
 
Apa yang hendak saya sampaikan adalah: Inilah saya sekarang. Saya yang besar oleh sebuah kedisiplinan dan pentingnya bertanggungjawab akan tugas masing-masing. Setidaknya, ada beberapa nilai yang akhirnya saya dapat dari hasil gemblengan keras saya di masa kecil:
1. Saya tidak gampang menyerah. Saya sudah terdidik keras untuk menjadi pengkarya yang mempertanggungjawabkan kualitas karyanya sejak masa latihan sampai saat turnamen. Bagi saya, menyerah itu sama dengan kalah. Berjuang terus supaya hasilnya maksimal, dan dengan cara itulah saya sangat menghormati proses.
2. Saya tidak pernah takut melihat musuh. Bagi saya, musuh adalah saingan yang akan membakar semangat saya lebih membara lagi. Mereka, barisan jenius gambar yang selalu saya pandang silau adalah para penginspirasi yang akan menjaga perjalanan saya tetap konsisten untuk menekuni bidang ini.
3. Kalah menang itu soal biasa. Dari pengalaman saya di masa kecil, kekalahan lebih banyak saya alami ketimbang kemenangan. Bagi saya, yang penting itu usahanya. Buat apa ikut lomba hanya untuk menang tapi kemenangan itu tak mengubah apapun di sisi kehidupan kita.
4. Keberhasilan adalah hasil dari perkawinan perjuangan dan proses. Saya tidak mengenal sukses instan. Kemenangan sejati bukan ketika menjunjung piala, tapi ketika kita merasakan emosi demi emosi di masa kita berproses.
5. Mengeluh hanya akan melipatgandakan masalah. Jauh lebih penting diam dan menelaah permasalahan untuk menemukan solusi. Itu yang saya alami setiapkali melihat gambar pemenang yang selalu lebih bagus dari punya saya.
 
Saya sedikit kesal dengan berita belakangan ini tentang orang tua yang memanjakan anaknya dengan dalih kasih sayang. Mungkin kesannya saat ini menyayangi dan melindungi, tapi saya khawatir kemanjaan itu akan menjadi bom waktu yang bisa membunuh anaknya di saat ia menghadapi kerasnya hidup di masa tua. Saya adalah generasi yang dibesarkan oleh didikan keras orangtua saya untuk tujuan baik di saat saya dewasa. Saya tidak mengatakan saya sukses, tapi setidaknya apa yang dilakukan oleh orangtua saya membuat saya terus bertahan dan melaju dengan lebih baik menghadapi kehidupan, khususnya dalam meniti karir saya sebagai Komikus Indonesia. Saya sudah terbiasa menghadapi deadline dan latihan keras sejak kecil. Ini yang membuat saya terbiasa bercengkerama dengan deadline dan perjuangan keras di masa dewasa.
 
Bagi yang tidak mendapatkan gemblengan di masa kecil, selamat menggembleng diri sendiri. Hanya perjuangan anda yang bisa mengubah nasib anda sendiri 🙂
 
The Dictator
 
Ditulis oleh:
Sweta Kartika
Komikus Grey & Jingga, Nusantaranger, H2O:Reborn, Pusaka Dewa, The Dreamcatchers, Piraku x Piraku, Spalko, dan Wanara.
Advertisements

Image

Kedua insan itu mematung.

Sekali waktu, sepasang mata mereka beradu. Dalam sepersekian lontaran detik itu mereka saling menerka, membaca isi kepala masing-masing yang tersembunyi secara maknawi. Tapi selalu saja tatapan itu berakhir pada pertanyaan-pertanyaan yang sama. Hampa tanpa jawabnya. Tubuh lelaki yang cukup berisi itu mulai gerah. Apalagi temaram ruangan cafe serasa tak sepadan dengan dentuman musik yang menghentak-hentak, padahal ini bukan diskotik. Ruangan yang dipaksakan seperti bernuansa peninggalan kolonial itu semakin tak nyaman dengan hanya kipas angin yang berputar malas di atas sebagai solusi atas panasnya udara malam ini. Tapi mungkin hanya dia yang merasakan ketidaksinkronan itu. Lelaki itu bernama Davy. Dan di depannya, gadis berkulit hitam manis dengan tubuh nyaris separuh lelaki di depannya nampak tenang. Agnes sejak tadi sibuk memilin-milin ujung serbet putih yang pucat oleh tempaan cahaya kuning ruangan. Ia tak tampak resah seperti sosok di seberangnya. Gadis berkacamata itu nyaris gagal meruntuhkan keanggunannya sendiri di tengah ruangan yang serba tak nyaman itu.

Mereka sudah lama berpacaran.
Dan ketika pertemuan ini terjadi, mereka masih baik-baik saja. Tapi mungkin justru itu permasalahannya. Mereka terlalu baik-baik saja.

Davy dan Agnes sudah 6 tahun menjadi sepasang kekasih. Dan perjalanan hati mereka nyaris tanpa dilema. Sekali, dua kali mereka berbeda pendapat, tapi cukup sampai di tahap itu. Berbeda pendapat. Tidak ada teriakan, kata-kata menghardik, menutup telpon dengan kasar, dan semacamnya. Mereka baik-baik saja. Dan sampai keduanya berpisah tempat bekerja pun tak nampak ada tanda-tanda pengkhianatan. Bukan karakter mereka untuk berpaling dengan mudahnya, setidaknya sampai malam ini.

Davy membuka obrolan, “Nye, besok aku mau nemui Lana lagi. Katanya mamanya pas mau datang juga ke kamarnya…”

Agnes tersenyum manis, seperti biasanya, “Salam ya buat mamanya Lana”

Davy membalas senyumannya, semampu mungkin ia mempertahankan lengkung bibirnya.
“Kamu bener ngga mau makan?”

Ia menggeleng, “Enggak Da, tadi sore baru banget aku makan bekalku”.

“Tadi pasien kamu gimana? Pak Yusuf masih cek darah sama kamu?”

“Iya, masih kok. Emang harus gitu kan…”

“Oh, ya hehe. Aku nanya apaan sih ini…”

Agnes tersenyum lagi. Hanya itu.
Setiap waktu.

Sebuah nampan berisi kwetiaw sapi panas mendarat di tengah meja mereka secara tiba-tiba. Kecanggungan suasana terpecah sesaat.
“Silakan, Mas. Sudah semua pesanannya?” tanya si pelayan sopan.

“Bener kamu ngga mau makan?”

Agnes menggeleng kecil, menandai suatu penolakan halus yang sejatinya cukup membosankan karena terlalu sering diulang. Davy tak pikir panjang untuk segera menyantap makanannya. Sejauh yang bisa ia mengerti, dengan makanlah setidaknya kecanggungan diantara mereka memudar perlahan.

Davy memutuskan untuk menyatakan cintanya kepada Agnes ketika keduanya sama-sama lulus dari SMA. Pasangan yang menghebohkan satu sekolahan kala itu. Gadis pintar dan lelaki cerdas. Tak ayal keduanya bisa masuk kuliah di jurusan favorit yang sama; kedokteran. Lima tahun bersama di kampus seperti menjalani kebahagiaan tanpa beban. Semua orang sadar bahwa keduanya bersikap apa adanya. Tidak ada yang mereka tutup-tutupi tentang cara berpacaran mereka. Sederhana. Siapa yang tak iri dengan mereka. Dua calon dokter paling potensial saat itu. Dan kini, mereka setidaknya selangkah lebih dekat mencapai mimpi itu, hanya saja mereka terpisah tempat magangnya. Tak jadi soal, toh mereka masih bisa bertemu tanpa kesulitan yang berarti.

Mereka sudah sangat saling mengerti. Tapi di sinilah kunci yang patah itu. Davy dan Agnes sudah mengetahui semua hal tentang diri masing-masing, dan ketika masalah ini datang, mereka jadi buta. Tak ada tanda yang bisa diraba. Tak ada kesalahan yang bisa mereka rasa. Tapi kejanggalan itu kini ada.

Meski sibuk mengunyah, pikiran Davy terus berputar mencari titik permasalahan. Angannya menjelajah ingatan demi ingatan, mencari tahu adakah yang keliru. Dan di balik ketenangan sikapnya, hati Agnes pun fana berlayar mengarungi gelombang emosi yang tidak pernah ia mengerti. Ia terus mencari. Jika ada yang bisa dihakimi, ia ingin menghakimi. Tapi semua jawab itu tetap kasat mata dan rasa. Belum pernah mereka secanggung ini. Sudah dua minggu rasanya mereka dikurung oleh kabut perasaan yang sulit mereka mengerti. Membiarkan keduanya sibuk menerka tanpa tahu apa sebabnya.

Davy menyudahi makannya.

Dari seberang meja itu, ia menyaksikan kekasihnya memandang kosong ke lantai seberang. Ia selalu sama setiap kali bertemu; cantik dan anggun. Tak bercela, setidaknya itu yang tertampak di matanya. Tapi malam ini manis wajahnya memendam tanda tanya. Lalu ia beranikan diri bertanya,

Nye, aku ada salah ya sama kamu?”

“Eh, enggak Da. Kamu ngga ada salah apa-apa”

“Kaa….lau begitu…kita ini kenapa ya?”

Agnes mengernyitkan dahi. Dan Davy segera menyadari kepura-puraan ekspresi itu
“Kita ini kenapa apa, Da….?”

Davy menggeleng, “Entahlah, Nye….”

Hening membakar atmosfer dalam radius hembusan nafas keduanya. Walau tak mampu diakui, sejujurnya hati Agnes lega dengan kecamuk ini, meskipun ia tak yakin bisa menyampaikan sesuatu setelah ini. Ia memandang lekat wajah bulat lelaki baik hati yang selama ini menemaninya. Sekuat hati ia mencoba menyunggingkan senyuman, tapi rasanya saat ini seakan itulah seberat-berat ujian. Ia tertahan dalam ekspresi wajahnya yang bimbang.

Da….“, ia membatin, “…Anye merasa kalau selama ini Da terlalu baik…
Tapi ucapan itu tak mampu menyuara. Ia terus tertahan di persimpangan batin, beradu dengan rasa hormatnya pada kebaikan hati kekasihnya.

Davy berkata, “Apakah Anye menyembunyikan sesuatu? Seperti….”
Agnes menunggu.
“….jatuh cinta ke lelaki lain?”

Agnes menggeleng cepat.
“Enggak, Da. Sama sekali enggak. Aku masih tetap terbuka, mencintai Da seperti biasanya”

Aku hanya……

bosan.

Batin itu kini bergejolak tanpa terucap.

Masih dalam keingintahuan dan rasa bersalah, Davy memberanikan hatinya bertanya,
“Apakah Anye ingin kita segera menikah?”

Agnes terperanjat. Baru saja ia berhasil mengetahui kejanggalan hatinya dan mencari keberanian untuk mengungkapkannya, kini pertanyaan Davy justru menikungnya hingga jatuh tersungkur.
“Bu….bukan itu. Aku…aku cuma. Aku ingin mengungkapkan ini, tapi aku harap Da ngga marah…”

Kini Davy menata diri. Sikap tubuhnya berubah formasi, tegak tapi penuh pengharapan.

Bibir Agnes bergetar lalu bersuara,
Anye merasa kalau selama ini kita terlalu datar….lurus…”

Davy mendengarkan seksama.

Anye merasa semua yang kita lakukan seperti tanpa dinamika. Biasa saja. Tapi tentu itu hal yang baik, Da. Dan Da lelaki terbaik yang perna Anye temui. Tapi…”

Kini suasana gaduh dentuman musik itu seakan dirampok oleh ketegangan mereka. Denging memanas di kedua pasang telinga tanpa mengizinkan seuntai suara pun masuk. Lalu kata itu terucap,

“Aku bosan, Da…”

Denging itu semakin keras. Bukan dari musik suasana, tapi dari dalam dada yang keduanya diaduk oleh emosi tak menentu.

“Aku mau kita pisah…Tapi bukan pisah untuk selamanya. Maksud aku, bukan karena Da nggak baik, bukan. Da kekasih yang baik hati, pacar yang paling mengerti. Bukan itu alasan Anye ingin pisah. Anye hanya….”

Davy berusaha keras tersenyum, “Apa Anye sudah pikirkan baik-baik? …atau, ada sesuatu yang perlu aku perbaiki? Mungkin? Apapun itu?”

Agnes membungkam. Lalu ia menggeleng.

“Pisah?”, tanya Davy, “Putus maksudnya…?”

Keheningan menjawab pertanyaan itu. Keduanya bahkan tidak pernah menduga suasana ini akan tercipta. Mereka mematung. Tatapan Davy lekat ke wajah cantik kekasihnya sementara lawannya hanya bisa memandang lembut taplak putih yang menyelimuti meja kayu bundar diantara mereka. Ketika pikiran dua insan itu berkejaran mencari jawaban, telpon genggam Davy bergetar.

Arga, sahabat mereka berdua sejak SMA, memanggil dalam getaran.

Bukan saat yang tepat, Ga. Batin Davy.
Ia menarik ponselnya dan menyimpannya di saku jaketnya.
Kini kejanggalan yang merespon keheningan mereka. Davy menunggu. Ia berharap kekasihnya itu segera memberikan jawabnya.

Tapi kemudian giliran ponsel Agnes yang bergetar.
Arga juga yang memanggil.

Agnes melihat ini sebagai kesempatan untuk mengelak. Davy yang melihat nama menyala di layar kecil itu mengernyitkan dahinya. Agnes mengangkatnya tanpa menunggu sikap persetujuan Davy. Ia menyalakan speakernya.

“Ada apa, Ga?”

Tak ada sahutan dari sana.

“Ga, ada apa ga? Sorry tadi gue nggak liat hape….” timpa Davy.

Suara isakan lalu terdengar samar dalam balutan gaung digital.

Nes….Dav….gue mau mati

Lalu telfon itu ditutup.

02 | Bunga

Image

Dari balik dinding kaca cafe itu, mata Sekar menyisir pemandangan di luar sana. Terik mendera aspal panas, menampilkan lukisan fatamorgana yang menari-nari di atas punggung kelabunya di kejauhan. Orang-orang nampak sibuk menghindari terpaan sinar panas yang menyengat kulit, berloncatan dari satu bayangan gedung ke bayangan gedung lain. Sebuah bajaj tua baru saja berhenti dan menurunkan seorang penumpangnya asal-asalan di seberang sana. Sekar membatin, rasanya tak mungkin jika orang yang sedang ditungguinya selama hampir 20 menit itu akan datang berkendara bajaj tua. Dan perkiraannya benar. Seorang wanita setengah baya keluar dari dalam bajaj itu sambil kerepotan menenteng segerombol tas kresek hitam yang berkilat setiap kali terpantul sinar mentari yang terik di atas sana. Setiap pergerakan kecil tubuh wanita itu menjadi sedikit hiburan bagi Sekar yang kala itu memang tidak terlalu baik kondisi hatinya.

Dari tempat ia duduk, di atas sebuah sofa magenta beludru, ingatannya menjelajah ke belakang. Dua jam lalu, ia baru saja bertengkar dengan salah seorang langganan penyedia material fabric yang biasa ia pakai sebagai supplier butiknya. Sebelumnya, ia sudah dibuat emosi oleh kelakuan dua pembantunya di rumah yang keliru menghidangkan saus alih-alih mayonnaise untuk pasangan ‘roti perancis’ buatannya. Dan emosinya kian menggeram ketika ia harus menghabiskan 20 menit waktunya untuk menunggu di sebuah cafe yang sama sekali bukan langganannya hanya untuk bertemu seorang fotografer pengganti yang sama sekali belum ia kenal kecuali sederetan portofolionya melalui internet. Tapi sebetulnya bukan hal-hal itu yang membuatnya muak.

Kini ia cenderung gelisah.

Sudah berkali-kali ia memandangi layar handphone-nya yang tak jua berpendar. Yang ia tunggu bukanlah permintaan maaf dari supplier kain untuk butiknya, bukan juga permintaan maaf dua pembantunya, dan juga bukan permintaan maaf dari fotografer sialan yang sudah menjebaknya dalam penantian panjang. Ia menunggu telpon dari seseorang.

Biasanya ia tak pernah telat menelepon. Paling tidak, setelat-telatnya, tidak akan sampai lewat dari setengah hari. Telepon itu bahkan sudah melewatkan paginya berlalu tanpa ada perhatian yang biasa terucap ketika matanya terbuka dari mimpi semalam. Telepon itu juga tak muncul ketika hatinya dibuat panas oleh kelakuan-kelakuan subjek yang tak sesuai dengan harapannya. Semuanya. Telepon dari seseorang itu belum muncul dari sekarang, dan itulah yang menggoncangkan hati Sekar secara halus. Keterlambatannya membuahkan kegelisahan yang kini kian mendominasi hatinya, mengalahkan amarah dan kemuakkannya.

Sempat terpikir untuk meneleponnya duluan, tapi segera ditepiskannya seketika baginya itu akan terasa membuatnya terlihat manja. Ia kembali mematung. Seorang pelayan cafe kembali menghampirinya untuk memastikannya apakah ia mau memesan menu lain atau sekedar basa-basi mengusirnya pergi dari tempat itu secara halus. Wajah Sekar tetap datar.

Agni.

Sudah lima bulan ia menjalin hati dengannya. Sekalipun hatinya sadar penuh tentang kemustahilan pilihan ini, tapi Sekar tetap berkeras melangkah. Hatinya sudah membatu. Logikanya sudah tak kenal perundingan. Kini yang tertinggal di dalam tubuhnya hanyalah nyawa dan cinta yang melaut. Cintanya yang paling tulus buat Agni. Perasaan yang paling sulit untuk ia mengerti, sesulit kepiawaian nalar untuk menelisik alasannya. Sesulit ribuan hati di luar sana untuk memaklumi perasaannya. Sesulit dunia memahami bahwa dia dan Agni adalah pasangan lesbian.

Banyak orang memuji dirinya sebagai desainer jempolan. Meskipun terbilang muda, Sekar mempunyai prestasi dan reputasi karya yang tak bisa diremehkan. Sepenggal catatan tentang kariernya saja sudah sanggup menjadi rubrik khusus di majalah-majalah fashion kenamaan untuk dikupas. Petualangan karya desainnya sudah singgah di negara-negara kiblat fashion dunia dan menjadi penginspirasi bagi desainer-desainer junior maupun senior untuk memahami esensi pemikiran dan gagasannya yang tertuang begitu cantik dalam karya desainnya. Tapi petualangan cintanya tak pernah semulus kariernya. Kini ia hampir menginjak kepala tiga dan belum satupun pangeran tampan sukses menggondol piala hatinya. Fotografer, desainer, model, bahkan konglomerat telah berhasil menjamahi karier Sekar dan kandas sebelum berhasil meluluhkan hatinya. Kekecewaannya itu berbuah asam. Kegagalan-kegagalannya menjalin kasih dengan para lelaki menyudutkan ketangguhannya pada satu jalan sempit berduri yang kemudian menjelmakan perasaan absurd kala Agni muncul di sana.

Ia begitu anggun, cantik, tapi juga rupawan. Agni adalah primadona di kalangan para model-model cantik lainnya. Kecerdasan emosi dan wawasannya yang meluap-meluap tertumpah membasahi kepribadiannya hingga nampak semakin bersayap. Agni memang tak sama dengan orang kebanyakan, demikian pula dengan keputusannya ketika dunia dibuat goyah kala mendakwahkan isi hatinya yang tertambat pada kaum sesamanya yang rapuh dan lemah, Sekar.

Cinta Agni kepada Sekar, dan juga sebaliknya menjadi satu penanda kecil bahwa pada satu kali dalam sepuluh ribu kesempatan, cinta akan keluar dari batas kewajaran. Mereka buktinya.

Bulan-bulan berlalu kian mendewasakan perasaan cinta Sekar kepada Agni, dan cemoohan itu perlahan meredup, semata karena dunia pun sadar bahwa ketulusan keduanya untuk saling membagi hati dan intuisi sudah dalam taraf sejati. ‘Kejantanan’ Agni muncul dari persemaian bunga emosi kodrat kewanitaannya, dan hal itulah yang kian menyihir kelembutan hati Sekar, membiarkannya terbakar oleh api cinta yang sulit dipadamkan logika. Kini keduanya akan saling melemah jika tak saling melengkapi. Agaknya benar semua nyanyian-nyanyian tentang asmara yang diputar sebagai hits di radio-radio pop itu, batin Sekar. Ia tengah lemah saat itu. Bahkan kealpaan dering telpon dari kekasihnya sanggup memberangus nalarnya.

Tepat ketika kegalaunnya nyaris meninggi, seorang lelaki mendekat ke arahnya.

“Sekar?”
Suara bassnya menggaung dalam radius 45 senti dalam jangkauan mereka berada.

Sembari mengamati sosok di depannya, Sekar mengangguk.
Ia tak sekedar mengangguk. Matanya menilai penampilan pria itu.

Tampan sekali.

Bulu-bulu hitam tumbuh di sekitaran dagu dan mulutnya; lalu di atas bibirnya yang berkarakter, melentinglah sepisau hidung mancung yang runcing; dan pada pangkalnya terbagi dua tatapan tajam bola cokelat berpupil hitam yang lekat membalas tatapan di seberangnya seakan ingin menenggelamkan lawannya ke dalam samudera pekat penuh misteri kepribadian. Rambutnya cepak, tapi siapapun akan berhasil menduga jika ia memanjang maka akan tercipta ikalan kecil berkelompok. Kulitnya wajahnya putih memerah, dan bulir-bulir embun keringat mengalir seperti sungai membelah pelipisnya. Ia tersenyum. Sekar yang nyaris sepuluh detik terpaku mulai sadar bahwa senyuman itu tercipta karena ia membiarkan tangan pria itu menggantung menunggu sahutan bersalaman.

“Maaf, saya…” Sekar menyahut tangannya, “…saya sedang meneruskan lamunan saya tadi…”

“Ah, tidak. Sayalah yang minta maaf membuat kamu menunggu lama,” sahut lelaki itu semari duduk berseberangan terhalang meja.

Sekar diam. Matanya kembali menjelajahi sosok di hadapannya. Wajahnya yang ke-arab-arab-an dan tinggi tubuhnya yang rupawan memaksa akrab kedua mata Sekar untuk tertahan dalam momentum penilaian ini. Dan selama beberapa detik, ia hampir yakin bahwa dirinya akan jatuh cinta dengan lelaki itu. Ah, batinnya, wanita mana yang tak suka dengannya. Tapi ia segera tersadar bahwa friksi cintanya sudah tak lagi sejalan dengan kodratnya. Ia sudah lain. Sekar sudah lain.

Lelaki itu berkata sambil sibuk mengeluarkan isi tasnya, “Tadi saya kena tilang, dan polisinya terlalu nasionalis untuk ‘berdamai’, so….”

Ia tak meneruskan kalimatnya.

Sekar masih terdiam.

“Saya minta maaf membuat kamu menunggu lama. Satu jam ya?” katanya lagi.

Sekar menggeleng, “Um, 20 menit. And it’s okay….
Lelaki itu tersenyum sebagai balasnya.

Ia menyodorkan kameranya, “Ini hasil pemotretan tadi pagi.”

Sekar menyahutnya, lalu jari jemarinya terampil memijit-mijit tombol di sana. Professional, batinnya. Foto-foto gaunnya nampak berkibar membalut tubuh model di dalam preview kamera itu. Matanya terus bertahan di sana.

Tiba-tiba, dering hanphone Sekar memecah keheningan keduanya. Bukan telpon, tapi SMS. Sekar mengernyit.

SMS itu dari Agni, dan Sekar semakin penasaran. Jarang sekali kekasihnya itu kirim pesan tulisan. Telepon. Selalu telepon. Pesan singkat itu cuma satu larik saja:

“I’m in a rush today. I’ll catch you later. Kiss”

Sekar terpagut sekarang. Agni belum pernah sesibuk itu. Sejauh yang ia sadari, kekasihnya selalu berhasil menemukan kesempatan untuk menghubunginya dengan suaranya, bukan dengan tulisan. Sesuatu pasti sedang terjadi dengan kekasihnya. Dan pikiran itu kian meracuni otak dan hatinya, lalu menjelma menjadi firasat dan prasangka yang saling bertengkar. Sekar menggeleng. Ia tak mau dikuasai oleh emosinya lagi.

“Ada kabar buruk?”

Suara lelaki itu menyadarkan lamunan Sekar. Ia menggeleng lagi sebagai jawabnya. Lalu Sekar berkata,

“Saya suka hasilnya. Warnanya keluar, lipatannya dapet banget. Lusa kita coba ke model yang saya punya”

Ia tersenyum, “Oke.”

“Boleh minta kartu nama? Saya cuma dapetin nomer kamu dari Hendri soalnya”, pinta Sekar.

“Ah, ya. Maaf, saya hampir lupa”, sahut lelaki tampan itu. Lalu ia menyodorkan selembar kartu nama untuk Sekar. Ia mengeja kemudian,

“Muqaddash….Al…Baraq. Saya panggil apa ya enaknya, Muqaddash?”

“Baraq. Saya dipanggil Baraq”

Sekar manggut-manggut.

“Nama saya susah dieja memang,” ia berujar seakan mencoba menjawab gestur Sekar kala matanya memandangi lekat kartu nama itu, “…tapi panggilan saya mudah diingat kok”

Sekar tersenyum, “Yup. Baraq….”

Ia balas tersenyum.

“Boleh tahu apa artinya?” tanya Sekar lagi.

“Halilintar.”

01 | Udara

Image

Kertas itu terbang tak tentu arah, membelah teriknya langit siang dengan sembarangan. Bersamaan dengan itu, dedaunan cokelat penanda akhir musim kering ikut-ikutan menari mengiringi penari utamanya yang berwarna putih pudar. Ketika angin perlahan melembut, selembar kertas itu mendarat tepat di sebuah paving block kelabu dan nyaris terinjak oleh kaki seseorang.

Ia berhenti seketika. Menyaksikan manuver pendaratan kertas yang begitu lembut seakan menyambut langkahnya.

Nama lelaki itu Awangga. Teman-temannya biasa memanggilnya Awang. Dalam hal ini, yang terlibat dalam penjelasan majemuk kata ‘teman-teman’ sebetulnya hanya beranggotakan tiga orang manusia; Sani – teman satu kelas, Sulis – gadis pemurung yang gemar menggalau bersama buku-buku tebal di perpustakaan, dan Pak Salim – tukang bersih-bersih perpustakaan kampus. Awang bukan lelaki sosial. Baginya, buku-buku matematika dan deretan angka dalam kajian Kalkulus jauh lebih supel untuk diajaknya bercengkerama. Friksi di kepalanya adalah statis. Cara pandangnya terhadap kehidupan terlalu riggid, sekaku angka satu yang enggan bertoleransi ikut melengkung ketika berjajar bersama angka 0. Baginya, setiap kesalahan terjadi karena kekeliruan pemakaian rumus atau kealpaan pemasukan permutasi ke dalam sistem. Ia tak percaya takhayul. Hantu dan Tuhan hanyalah produk budaya manusia dan manifestasi mereka terhadap ketakutan yang berlindung di bawah kedangkalan data dan fakta zaman. Ia bahkan tak yakin apa itu definisi ‘budaya’. Ramalan adalah bualan, horoskop adalah khayalan. Tatanan di kepalanya meyakini bahwa pseudo-science hanyalah fiksi, sedangkan sains adalah kitab suci.

Tapi detik itu, kredo di kepalanya diganggu.

Tangannya mengambil lembut kertas yang tergeletak diam di depan sepatunya. Setelah membolak-baliknya beberapa kali, Awang tercenung. Kertas itu nyaris kosong. Dari yang berhasil ia duga, materi tipis dalam genggaman tangan kanannya berukuran setengah 29.7 kali 21 centimeter. Bergaris-garis warna biru pupus, pucat warna lembarnya hampir berhasil menyamarkan selarik tulisan yang digores dengan karbon pensil di atasnya. Pantulan sinar mentari terik pada lembar putihnya memaksa Awang memicingkan mata semampunya hingga ia berhasil membaca isi kalimat itu. Bibirnya membisik kala ia membaca;

“Jika kau adalah angka, sanggupkah kau menghitung seberapa banyak diriku?”

Awang terdiam.

Hanya itu saja? Ia membacanya berulang-ulang kalimat tak berstruktur itu. Tubuhnya masih mematung di sana. Perlahan, ia sadari matanya mulai berkunang-kunang diterpa pantulan pendar mentari yang memantul tanpa basa-basi ke arena matanya. Lalu ia memandang sekeliling. Dahinya mengernyit mencoba mengalahkan efek bayangan hitam usai pendar terang menghajar pupilnya.

Kakinya melangkah maju untuk sekedar meyakinkan bahwa di sekelilingnya ada gedung tinggi yang diyakininya sementara sebagai tempat asal untuk menerbangkan kertas di tangannya itu. Ia mengamati bayangan rambut di bawahnya untuk sekedar meyakinkan bahwa masih ada perbedaan tekanan udara yang bisa menyebabkan angin berhembus untuk menerbangkan kertas itu. Tidak ada. Ia sedang mematung sendirian di tanah lapang halaman kampusnya. Pepohonan yang nyaris gundul memagari posisinya agak jauh di sana.

Ini terlalu aneh untuk disebut kebetulan.

Tergerak hatinya untuk mencampakkan begitu saja kertas itu, tapi itu artinya ia sedang mengingkari sebuah peristiwa tanpa berani mengkajinya terlebih dahulu. Terlebih lagi, kalimat singkat di sana seakan-akan menyindir keberadaannya. Awang meyakini betul bahwa substansi yang mendominasi dirinya adalah angka.

Maka, jika ia adalah angka, sanggupkah ia menghitung seberapa banyak ‘dirinya’ di dalam kalimat itu? Tapi, siapakah ‘dirinya’ itu?

Untuk pertama kalinya ia terganggu oleh sebuah fakta tanpa data. Kepalanya yang selama ini diimaninya sanggup mematematikakan Deja Vu, kini mengarat. Nyaris disadarinya kini logikanya menumpul. Rasionya bahkan tak punya daya melawan khayalnya. Kendatipun ia berjuang begitu keras, tapi perlahan ia sadar dan menyerah bahwa di hatinya tumbuh sekelebat rasa yang tak ia mengerti.

Ia menduga akhirnya, sepertinya tak ada matematika di dalam area ini.

Masih dalam segala ketidakmengertiannya, ia melanjutkan langkahnya. Kertas kecil itu disisipkannya ke dalam tumpukan buku tebal yang dijinjingnya seharian. Ia akan menyimpannya sampai ia menemukan jawabnya.

Dan tepat ketika kertas itu hendak terselip, matanya menangkap satu kata di bawah kalimat ajaib itu. Ia bahkan tak yakin apakah kata itu adalah nama atau istilah, atau kalimat yang belum selesai ditulis. Tapi satu kata itu telah sanggup menyetrum serotonin di aliran sabuk persimpangan neurosynapsis-nya dan kian menyudutkannya dalam kubah perasaan yang semakin tak ia mengerti. Satu nama yang indah tertulis di sana:

Tara.

Di sebuah daerah di Jawa Tengah tidak jauh dari masa tulisan ini dibuat, ada sebuah kasus usaha pembubaran sebuah pagelaran Wayang oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan kelompok Islam. Tenang, mereka bukan FPI, hanya kelompok Islam kecil dari sebuah desa. Saya mendengar cerita ini dari seseorang yang pada saat kejadian sedang mendokumentasikan acara. Alkisah, sekelompok orang bergamis dan berkostum serba putih dari ‘langgar’ (mushola) desa menggrebek acara pementasan Wayang Kulit di sebuah rumah. Di tengah pementasan di malam hari, mereka menghentikan pementasan secara paksa sembari dengan lantang suara mendakwahkan bahwa pentas Wayang Kulit itu budaya kafir. Belum selesai ‘dakwah paksaan’ itu di khotbahkan, sang dalang dengan alim datang menghadapi sang ‘khotib’ muda, dan berkata:

 

“Kalian ini umat yang tidak tahu terimakasih. Kalian pikir Islam bisa masuk dengan damai ke Jawa melalui cara apa? Apa kalian tidak baca sejarah perjuangan Raden Sa’id (Sunan Kalijaga) yang susah payah menyebarkan ajaran luhur Islam dengan Wayang Kulit? Lantas, apa kalian pikir ‘lakon’ (cerita) yang saya tampilkan ini mengajarkan kebobrokan? Mana yang kalian sebut kafir? Apakah orang yang berusaha mengajarkan Islam dengan cara damai, atau yang mengajarkan Islam dengan angkat senjata teriak-teriak menghardik sambil berkata Islam itu damai? Mana yang lebih kafir?”

 

Tidak ada sahutan dari kelompok pasukan berkostum putih tersebut, konon ceritanya. Masing-masing membubarkan diri dengan damai, dan pentas Wayang Kulit berlanjut hingga paginya.

 

 

Ketika Tony Blair mengunjungi Indonesia, Aa Gym menyambut beliau dengan sebuah perbincangan sore yang ringan. Apa isi obrolannya? Aa Gym menceritakan bagaimana Islam bisa masuk dan diterima oleh nyaris seluruh rakyat Indonesia. Ternyata tidak ada sejarahnya di Indonesia bahwa Islam diajarkan dengan kekerasan. Tidak ada satupun. Islam bisa dengan indah diterima oleh mayoritas masyarakat pada masa itu oleh kelembutan dan kemuliaan akhlaq para pedagang. Tanpa paksaan, berbondong-bondong Islam dipeluk oleh hati masyarakat yang kala itu didominasi aliran kepercayaan lain dengan cinta yang tulus. Mungkin agak berbeda dengan agama lain yang bisa masuk dengan cara paksaan dan penjajahan, tapi itu lain soal. Yang pasti, sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW dan firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an Al-Karim bahwa ‘tidak ada paksaan di dalam Islam’.

 

Sebuah kalimat suci yang ada dalam ajaran Islam berbunyim’berlomba-lombalah dalam kebaikan’. Itu adalah poster theologis buah karya Yang Maha Mendesain Alam Semesta tentang sebuah pengumuman event “Lomba Kebaikan”. Hanya posternya saja. Artinya, siapa yang mau ikut lomba, silakan. Yang tidak mau ikut? Silakan. Tidak ada paksaan. Kalimat itu adalah ciptaan Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 148. Bukan sembarangan. “Poster” tersebut adalah anjuran tentang tata cara menyebarkan ajaran Islam, yaitu dengan berkompetisi dalam kebaikan. Apa yang baik menurut hati nurani dan syariat, maka berlombalah. Mengapa tidak ada perintah “Ajaklah semua orang masuk Islam?” Karena dengan mengikuti lomba kebaikan inilah secara natural orang-orang akan mengikuti kaidah keislaman yang hakikat. Tidak perlu ada seruan gamblang dan dangkal.

 

 

Kenapa kalimatnya tidak berbunyi ‘berlomba-lombalah dalam Kebenaran?’ Karena sejatinya kebenaran itu tidak pernah mutlak, tapi kebaikan adalah konsep yang hakiki. Sesuatu yang hakiki itu hanya Allah yang mendesain. Ketika orang-orang berteriak dengan dalil yang mereka anggap tepat dan berteriak lantang menyuarakan ‘kebenaran’ tapi dengan cara menindas, pada saat yang sama mereka sedang menginjak-injak nilai ‘kebaikan’ sebagaimana yang sudah di konsepkan oleh Allah dalam firman-Nya. Sekalipun mereka berkelit bahwa tindakan mereka itu untuk kebaikan, tetapi syari’atnya melawan kebaikan itu sendiri, maka hasil akhirnya tidak akan pernah nyambung.

 

 

Hal yang paling menginspirasi dunia dari ajaran Rasulullah SAW adalah ketika beliau memfatwakan tugasnya di dunia sebagai utusan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq”. Sekali lagi, bukan untuk menyebarkan agama Islam saja. Sebab beliau sadar betul, basis dari keislaman adalah kemuliaan akhlaq. Mengapa masa-masa sekarang anarkisme dan ke-parno-an dengan latar agama Islam kian mewabah. Ust.Zainuddin MZ pernah mengutarakan sebuah alasan yang luar biasa. Semua itu terjadi karena umat Islam tidak mempelajari agamanya secara urut dan tertib. Ibarat berwudlu, mereka mulai dari mencuci kaki. Selain wudlu-nya tidak sah, sholatnya juga tidak diterima. Perumpamaan ini mencoba menerangkan satu hal bahwa, untuk menguasai materi disiplin ilmu di dalam ajaran Islam pun ada urutannya. Persis seperti anak sekolah. Anak kelas 1 SD tentu mempelajari sesuatu yang ringan. Berlanjut sampai anak kelas 3 SMA, jenjang kesulitan materi pun bertingkat. Bagaimana jadinya jika anak SD diberi materi anak SMA? Selain tidak akan masuk, mereka juga akan stress. Indikasi maraknya anarkisme dan sempitnya penafsiran ajaran Islam ke dalam tindakan yang berseberangan dengan hati nurani adalah indikasi bawa disiplin ilmu Islam tidak dipelajari dengan cara yang berurut. Jika meninjau kembali tugas Rasulullah, hendaknya semua umat memulai proses belajar dan mengakhirkan tujuan belajar kepada satu muara: “Kemuliaan akhlaq”. Akhlaq yang mulia menjadi pondasi awal dalam mempelajari kajian ilmu lain yang lebih tinggi posisinya. Dengan basis akhlaq yang mulia, maka perintah ‘jihad’ tidak lagi terdefinisikan dengan ‘angkat senjata fisik’. Dengan basis akhlaq yang mulia, maka tata cara memandang orang yang belum Islam tidak dengan tatapan kebencian, melainkan dengan tatapan welas asih ingin menyelamatkan mereka ke dalam kedamaian Islam yang indah.

 

Celakanya, orang-orang pada era belakangan mengedepankan emosi daripada nurani. Teringat kisah mulia Ali bin Abi Thalib yang ditantang berkelahi oleh seorang pendekar pedang dari bangsa kafir Quraisy. Dalam pertarungannya, Ali berhasil menjatuhkan lawannya tersungkur ke tanah. Ketika ingin dihantam oleh Ali, lawan itu meludah. Diriwayatkan, Ali tak jadi menebaskan pedangnya. Ia mundur, lalu membantu lawannya berdiri. Sang pendekar Quraisy yang heran bertanya, “Kenapa kau tak jadi membunuhku?”. Ali menjawab, “Karena aku khawatir nanti membunuhmu karena ludahmu, bukan karena membela Allah.” Emosi yang terkendali.

 

 

Islam mengajarkan kesantunan yang kaffah. Bukan hanya soal syari’at, melainkan dari tertatanya pola pikir, kecerdasan memandang permasalahan, kebijaksanaan menelurkan solusi, dan kemuliaan mengejawantahkan akhlaq. Semakin seseorang sibuk membenahi atribut fisiknya tapi lalai bercermin memuliakan aklaqnya, dikhawatirkan ia sedang merusak derajat keislamannya sendiri.

 

 

Islam ibarat air danau yang begitu luasnya. Kita hanya bisa meminumnya segelas demi segelas untuk menghilangkan dahaga kita. Jika kita ingin serakah merasa mampu meminumnya dengan sekali teguk, maka yang terjadi justru kita akan ditenggelamkan oleh kebodohan kita sendiri.

 

 

Hanya renungan menjelang fajar dari orang yang ingin belajar.

 

Semoga tidak mendakwahi.

Di sebuah pagi yang indah, saya bertemu dengan kawan lama saya. Dia pernah bekerja di Jepang sebagai seorang engineer di sebuah pabrik assembly otomotif di sebuah kawasan industri di Shizuoka. Di sana, ia bertemu dengan seorang mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Tokyo. Mahasiswa ini, sebut saja namanya Dian tidak tinggal di kos atau asrama seperti mahasiswa lain. Ia tinggal di homestay rumah milik saudara salah seorang dosen di universitasnya. Kisah yang akan saya ceritakan adalah pengalaman seorang Dian.

Di rumah tempat Dian tinggal dihuni oleh keluarga harmonis, persis seperti film Chibi Maruko-chan, yakni seorang bapak yang bekerja sebagai perawat di klinik dokter hewan, seorang ibu yang menjadi guru les ikebana (merangkai bunga Jepang), seorang kakek pensiunan guru, seorang nenek ‘rumah tangga’, dan dua orang anak laki-laki kakak-beradik yang masih SD. Dari penuturan Dian, keluarga ini selalu makan malam bersama dan bercanda bersama menceritakan semua hal yang sudah dialami selama seharian itu. Dian pun di ajak serta. Mula-mula, katanya dia malu-malu, tapi lambat laun terbiasa. Sarapan pagi hampir tidak pernah dilewatkan bersama karena kesibukan masing-masing anggota keluarga berbeda-beda. Kecuali hari minggu dan hari libur, mereka baru bisa sarapan bersama keluarga lengkap. Lalu, sepanjang tinggal di keluarga itu, Dian menemukan hasil riset yang menarik. Sebegitu sibuk dan padatnya jadwal masing-masing anggota keluarga, di rumah itu TIDAK ADA PEMBANTU RUMAH TANGGA.

Setiap usai makan pagi, masing-masing anggota keluarga merapihkan mangkuk dan piringnya sendiri. Menaruhnya di meja makan dan mencucinya sendiri. Setiap peralatan makan di rumah itu sudah dilabeli menjadi milik masing-masing, dari mangkuk sup bahkan sampai ke sumpit. Saya jadi teringat di komik Sinchan ketika Sinchan usil mengambil kotoran Shiro, anjingnya, dengan sumpit milik bapaknya. Berarti memang itulah yang terjadi di sana. Masing-masing orang memiliki barang sendiri dan masing-masing anggota keluarga BERTANGGUNG JAWAB atas barang mereka sendiri. Itulah sebabnya mereka tidak butuh Pembantu Rumah Tangga (PRT). Dari penuturan Dian, selama hampir beberapa dekade, Jepang tidak mengindahkan budaya PRT.
Kenapa?
Jelas karena ada dua alasan:

1. Bagi anggota keluarga, kerapihan barang-barang di rumah adalah tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. Ingat kan ketika Nobita dimarahi ibunya setiapkali ia bermain-main di kamar dan tidak merapihkan mainannya? Sampai Nobita sendiri yang nanti merapihkan, tidak ada satupun anggota keluarga yang mau merapihkan. Dengan cara militan ini, anak-anak Jepang terlatih untuk bertanggung jawab atas barang kepunyaannya dengan cara merawat dan merapihkannya sendiri. Hal ini mengakar hingga bertahun-tahun hingga menjadi sebuah budaya yang mengakar dalam kepribadian mereka hingga mereka dewasa. No wonder negara itu menjadi sangat kuat menilik kepribadian penduduknya yang memang jempolan sejak kecil.

2. Bagi setiap keluarga di Jepang, anak-anak adalah TANGGUNG JAWAB mereka, bukan tanggung jawab pengasuh mereka. Tidak ada istilah pembantu rumah tangga yang bantu-bantu berbenah rumah dan mengasuh anak sementara orang tuanya kerja sendirian. Mereka dituntut oleh budaya dan peraturan negara untuk cerdas membesarkan dan mendidik anak mereka sendiri hingga dewasa, sesibuk apapun jadwal hidup mereka. Mendengar cerita ini, saya teringat film BABIES dimana di film tersebut diceritakan bayi dari keluarga di Jepang yang diasuh oleh bapaknya sembari bekerja di rumah. Memang budaya kerja di rumah (freelancer) sedang populer belakangan di seluruh dunia. Dan itu menjadi nilai plus bagi seorang anak sehingga ia bisa besar oleh sentuhan langsung kedua orang tuanya.

Itulah Jepang.
Sekarang kita lihat Indonesia.

Di negara kita, budaya PRT sangat populer. Bahkan saking populernya sampai-sampai Indonesia terkenal sebagai negara pengekspor pembantu terbesar se-Asia Tenggara. Makanya kita mengenal istilah TKW, dan tentu dibarengi oleh serangkaian kasus yang kurang enak didengar. Tentunya kita tidak bisa menyalahkan posisi orang yang suka bantu-bantu di rumah kita. Yang perlu kita pertanyakan kembali adalah esensi dari tugas pembantu tersebut.

Saya teringat betul pada sebuah kejadian ketika saya masih kuliah. Seorang teman saya datang ke kampus uring-uringan karena telat bangun dan terus-terusan mengeluh di dalam kelas, seperti ini:
“Sialan gue telat! Ini gara-gara dua pembantu gue ga ada yang beresin kamar dan ga ada yang bangunin gue!”
Waktu itu saya speechles sampai melongo mendengar statement keluhan itu, jujur saja.
Try….?
Ketika sebuah keluarga menempatkan pembantu rumah tangga pada posisi yang SALAH, maka yang terjadi adalah pembentukan budaya yang BURUK di dalam keluarga itu. Kebanyakan keluarga di Indonesia yang kondisinya mampu hampir mayoritas memiliki pembantu di rumahnya. Sayangnya peran pembantu ini seringkali salah. Budaya yang kemudian terbentuk adalah budaya MENGANDALKAN ORANG LAIN. Coba telaah, ketika ada pembantu, anggota keluarga bisa semena-mena memakai barang rumah dan meninggalkannya dalam kondisi sesuka hati. Contoh sederhana saja, seperti seusai makan. Piring kotor ditinggalkan di tempat ia terakhir makan dan dibiarkan begitu saja dengan dalih “Nanti biar diberesin sama bibi”. Setiap usai kegiatan olahraga atau sekolah, sang anak kebiasaan main lempar baju kotor ke tempat cucian dan bahkan ada yang membiarkannya gelantungan semabarangan di kamar dengan harapan “Nanti biar diberesin sama bibi”.

Pengaruhnya apa? Pengaruhnya JELAS kita menjadi suka mengandalkan dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan dan barang kita sendiri. Mau berdalih? Silakan. Tapi tanya ke diri sendiri. Faktanya, jika kemudian sebuah keluarga terlalu mengandalkan peran PRT di rumah secara TIDAK PROPORSIONAL, maka yang terjadi kemudian adalah mengakarnya sebuah budaya yang AMAT buruk dalam sebuah keluarga. Padahal yang berantakin barang kan kita, kenapa kita nyuruh orang lain beresin? Tabiat sok tajir pasti akan berkelit, “Mereka kan udah gue bayar”. Ya betul. Pada saat yang sama ia sedang membayar kemalasannya sendiri. Anak yang tunbuh dengan didikan seperti ini akan menjadi pribadi yang suka mengandalkan orang lain dan tidak bisa bertanggung jawab. Imbasnya, tentu ia akan menjadi orang yang suka menyalahkan orang lain, suka mengeluh, dan melempar tanggung jawab sesuka hati. Budaya buruk ini juga akan membuat kita semena-mena terhadap barang milik kita sehingga tidak bisa menghargai barang milik sendiri.

Kemajuan sebuah bangsa dimulai dari keberhasilan pendidikan di dalam keluarga. Jepang tampil sebagai negara adikuasa di Asia karena akan keluarga-keluarga kecil penyokong negara itu sangat bagus budayanya. Mereka terlatih disiplin, bertanggungjawab, percaya diri, mengandalkan diri sendiri, dan konsisten menjalankan budaya itu selama berabad-abad lamanya. Itulah yang harus kita contoh. Salahkah kita punya pembantu? TIDAK! Yang salah adalah ketika kita mengeksploitasi peran pembantu secara berlebihan dan tidak proporsional. Apakah lantas yang tidak punya pembantu sudah pasti benar? BELUM TENTU! Kalau dia sudah jelas hidup sendiri tapi masih suka semena-mena terhadap barang miliknya dan enggan bertanggungjawab terhadap hal yang sudah dilakukan, itu jelas sama buruknya dengan orang yang mengandalkan pembantu.
Hiduplah MANDIRI. Maju karena usaha sendiri, berhasil karena tekad sendiri. Sehingga ketika kita jatuh, kita tetap percaya diri dan bangkit tanpa perlu mengeluh (ih, menjijikan….) atau menyalahkan orang lain.

Mari bersyukur dan saling memperbaiki diri.

XGRA AXY!!
😀